Tradisi Ngaben Warisan Budaya Bali, Pengertian, Makna dan Gambar!

  • Whatsapp
tradisi ngaben yang terkenal dari Bali

Mengenal Tradisi Ngaben – banyak nya kebudayaan di Indonesia ini menjadi kebanggaan tersendiri tentunya, selain unik dan menarik juga menarik banyak perhatian wisatawan lokal maupun manca negara. Pada tulisan berikut ini anda akan mengerti tahapan dalam prosesi pelaksanaan upacara ngaben serta makna yang terkandung di dalamnya, juga di lengkapi dengan gambar agar mudah di mengerti dan difahami.

 

Read More

I. Pengertian dan Makna Upacara atau Tradisi Ngaben

Salah sat budaya Bali yang terkenal bahkan sudah tersohor hingga ke Internasional yaitu Tradisi Ngaben. Merupakan upacara pembakaran jasad oleh masyarakat bali yang menganut Agama Hindu biasanya upacara dilakukan untuk menyucikan roh anggota keluaraga yang telah meniggal menuju peristirahatan terakhir.

Arti kata ‘ngaben’ yaitu bekal atau abu yang semua tujuannya mengarah tentang adanya pelepasan terakhir kehidupan manusia.

pelaksanaan ngaben yakni proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa kembali ke sang pencipta.

Tradisi atau upacara ngaben biasanya dimulai dengan arak-arakan dari para keluarga. Masing-masing keluarga akan membawa foto mendiang atau jasad yang akan diaben. Bunyi gamelan Bali ikut mengiringi rombongan sampai ke lokasi Ngaben.

II. Makna dari Upacara Ngaben

Membakar jenazah maupun simbolisnya kemudian menghanyutkan abu ke sungai, atau laut memiliki makna untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam). Upacara ini merupakan simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas, dan merelakan kepergian yang bersangkutan.

III. Tahapan Upacara atau Tradisi Ngaben

Dalam pelaksanaan upacara ngaben ada beberapa tahapan yang dilakukan secara adat, dalam hal ini budaya bali yang menganut agama Hindu seperti berikut:

1. Tahapan pertama dalam tradisi ngaben yani Ngulapin

Untuk memanggil Sang Atma, upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal luar rumah yang bersangkutan (misalnya di Rumah Sakit, dll). Hal ini dapat berbeda-beda tergantung tata cara dan tradisi setempat, ada yang melaksanakan di perempatan jalan, pertigaan jalan, dan kuburan setempat.

2. Nyiramin/Ngemandusin

Memandikan dan membersihkan jenazah yang biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan (natah). Prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya, serta apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali agar dianugerahi badan yang lengkap (tidak cacat).

3. Ngajum Kajang

Selembar kertas putih yang ditulisi dengan aksara-aksara magis oleh pemangku, pendeta atau tetua adat setempat. Setelah selesai ditulis maka para kerabat dan keturunan dari yang bersangkutan akan melaksanakan upacara ngajum kajang dengan cara menekan kajang itu sebanyak 3x, sebagai simbol kemantapan hati para kerabat melepas kepergian mendiang dan menyatukan hati para kerabat sehingga mendiang dapat dengan cepat melakukan perjalanannya ke alam selanjutnya.

BACA JUGA: 20 Ragam Budaya Bali Berbasis Kearifan Lokal

4. Ngaskara

Bermakna penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.

5. Mameras

Dari kata peras yang artinya berhasil, sukses, atau selesai. Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut keyakinan cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik yang mereka lakukan.

6. Papegatan

Berasal dari kata pegat, yang artinya putus. Makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah secara ikhlas melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik. Sarana dari upacara ini adalah sesaji (banten) yang disusun pada sebuah lesung batu dan diatasnya diisi dua cabang pohon dadap yang dibentuk seperti gawang dan dibentangkan benang putih pada kedua cabang pohon tersebut. Nantinya benang ini akan diterebos oleh kerabat dan pengusung jenazah sebelum keluar rumah hingga putus.

7. Pakiriman Ngutang

Di laksanakan setelah upacara papegatan yang dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat, jenazah beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara pengusung jenazah (hal ini tidak mutlak harus ada, dapat diganti dengan keranda biasa yang disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara “Baleganjur” (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, atau suara angklung yang terkesan sedih. Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing. Selain itu perputaran ini juga bermakna: Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar 3x di perempatan dan pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar 3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.

8. Ngeseng

Adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta, setelah selesai kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.

9. Nganyud

Bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, atau sungai.

10. Tahapan tradisi ngaben terakhir adalah Makelud

Biasanya dilaksanakan 12 hari setelah upacara pembakaran jenazah. Makna upacara makelud ini adalah membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang melanda keluarga yang ditinggalkan. Filosofis 12 hari kesedihan ini diambil dari Wiracarita Mahabharata, saat Sang Pandawa mengalami masa hukuman 12 tahun di tengah hutan.
(id.wikipedia.org/wiki/Ngaben#Rangkaian_Upacara_Ngaben)

BACA JUGA: Keunikan Rumah Adat Bali, Lengkap Makna dan Gambar!

IV. Gambar Upacara atau Tradisi Ngaben

Upacara Ngaben Bali
Upacara Ngaben Bali (img via nonikhairani)
Tradisi ngaben bali
Tradisi ngaben bali (img via bali express)
Prosesi pembakaran jasad saat upacara ngaben
Prosesi pembakaran jasad saat upacara ngaben (img via bobo.grid.id)

V. Akhir Kata

Gimana sobat semua sudah puas dengan informasi yang kami sajikan? jika belum tolong feedback nya dengan cara memberikan komentar di bawah ya, agar kami bisa memperbaiki segala kekurangan demi kemajuan situs kebudayaan ini.

Berita Unik Lainnya: Ritual Pemakaman Unik Mepasah Trunyan Bali

Demikian yang dapat kami jelaskan seputar tradisi unik Gnaben dari Denpasar, Bali semoga bermanfaat dan berguna, Jika ada keslahan penulisan mohon dikoreksi demi kemajuan situs ini. Mampir juga ke channel YT kami silahkan komen dan subscribe ya teman-teman.

Jangan lupa berbagi artikel ini ke teman dan kerabat kalian agar mereka juga mengerti apa itu tradisi ngaben, terimakasih.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *